Semalam
Ketika aku memandang tubuhnya di awal pagi
Putik merahnya mengembang megah
Cecair jernih di atasnya mengalir jatuh
Ke bawah bumi
Seperti tersenyum menmgundang pancaran mentari
Ketika aku meninggalkan pohon itu
Ia seperti melambai diriku tika aku memandangnya
Siapa yang mengerti!
Oh, kasihku tak usah menghantar
Penghijrahan sementaraku ini dengan lambaian redupmu
Ayuh! Buatkan dirimu tertawa ceria
Seperti yang kau buat selalu
Ingatkah lagi engkau..kekuatanmu itu telah
Memukau seluruh penghuni rama
Mereka seronok menghisap dan menyedut
Kemanisan madumu.
Ketika aku pulang dari penghijrahanku
Pandangan mataku tertancap
Pada letaknya.
Pohon bunga itu diliputi awan tebal
Fotosintesis tak dapat berfungsi
Nafas sesak. Matanya kabur menlenyapkan keceriaannya.
Siapa sangka lambaian pagi tadi adalah
Ucapan selamat tinggal
Putik merah dan daun suburnya tersirat
Sesuatu yang tersembunyi.
Siapakah lagi yang menghargai diri ini
Yang papa kedana.
Pagi ini
Pohon bunga itu sudah hilang kesuburannya
Daun yang dulunya kembang menghijau
Sudah layu menyembah bumi
Putik yang dulunya menjadi taman asmara
Kini hanya tinggal nama
Siratan matahari di ufuk barat
Tidak dapat menyembuhkan luka-luka di tubuhnya.
Kini semuanya tinggal harapan
Sisa harapan supaya pohon itu bangkit
Bangkit hidup memperjuangkan jihadnya
Bangun untuk mengembalikan zaman kegemilangannya.
Cuma terdapat satu persoalan
Apakah harapan itu menjadi realiti?
Yang pasti dunia baru akan muncul kembali
S.Hana AK
Thursday, March 4, 2010
Sepohon bunga di taman
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment