Selat Tebrau,
aku datang dari jauh
semata-mata ingin melihatmu
melihat kekeruhan airmu
melihat kekosongan jasadmu
melihat kedukaan hatimu
kerna aku terdengar dari manusia
yakni makhluk yang melepaskan
keganasannya kepadamu
bahawa kau sudah berubah
berubah warna
berubah rasa
berubah bentuk
berubah perasaan.
Selat Tebrau
Dulu ku pernah dengar
Biru warnamu
Putih pasirmu
Jernih airmu
Meniti dari bibir-bibir insan bernama
Yang gembira menyambut kewujudanmu
Dan memuji kecantikanmu
lalu mengagumi kekuasaan Maha Penciptamu
tapi kini,
aku jadi berduka melihat rupa bentukmu
semua kata manusia adalah bohong belaka
di manakah kebenaran yang selama ini
menakluki jiwa sukmaku
angin yang mengusap lembut badanku
dari lubuk hatimu
tak mampu menyenangkan diriku
aku seperti ingin menangis
aku seperti ingin berteriak
menyatakan kepada semua manusia
bahawa kau juga makhluk ciptaan Tuhan
yang ingin dihargai
ingin disayangi
ingin dimanjai
jangan biarkan sampah dan minyak menyayangimu
jangan biarkan ikan dan karang menjauh darimu
kerana semuanya bermula di tangan seorang
yang bernama manusia.
Merekalah yang merubah mu
Menjadi laut yang
Kusam kulitnya.
Nukilan: S. Hanak Ak
28 Mac 2010
13.58 pm
UPSI
Sunday, March 28, 2010
Selat Tebrau
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 3:09 AM 0 comments
Labels: puisi
Thursday, March 18, 2010
BINTANG MALAM
Ketika malam menjengah waktu
Kau terbaring menghiasi dada langit
Berkerdipan bagaikan mutiara
Yang bersinar dari kejauhan
Walaupun cahayamu semakin kerdil dan malap
Namun, kau dengan tulus ikhlasmu
Memberi sinar kebahagiaan
Memberi sinar kegembiraan
Memberi sinar keseronokan
Pada teman-temanmu di pelabuhan dunia ini
Semakin kau banyak memberi
Semakin cantik dirimu di langit waktu
Semakin indah dirimu
Semakin ramai yang memujimu
Dan tak kurang juga yang tak menghiraukanmu
Setelah kecantikanmu semakin sirna
Di sisiku
Kau adalah teman yang setia
Memberi dan terus memberi
Berkerdipan dan terus berkerdipan
Bersinar dan terus bersinar
Memugar kasih sayang manusia
Pada pencipta-Nya
Bintang malam,
Jiwamu dan jiwaku sudah ku satukan dalam kolam hatiku
Dalam setiap diari kehidupanku
Ku jadikan kau sebagai pencetus semangatku
Kerana hanya kau yang layak menjadi teman
Di kala aku kesepian
Di kala aku kesedihan
Di kala kekecewaan menguasai diriku
Terhadap manusia yang tidak menghargaimu.
Bintang malam
Esok ada yang ingin ku kerjakan
Lusa ada yang ingin ku lakukan
Dan
Tulat ada yang akan memerlukanku
Kerna itu
Aku taburkan bunga cinta kasih ini padamu
Agar kau tak lupakan aku
Untuk terus berkawan denganku
Pemuja kecantikanmu....BINTANG!!!
Nukilan: S. Hana AK
17032010 ( Rabu)
1.01 Pm
Khar, UPSI
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 1:49 AM 0 comments
Labels: puisi
Saturday, March 13, 2010
Suatu pagi

Suatu pagi yang dingin
Ketika embun menitiskan air matanya
Ketika bayu menghembuskan nafasnya
Kedengaran suara ayam jantan
Bersahutan di luar gerimis
Sambil menemani
langit yang kelam
lalu ketiga-tiganya bergumpal
menjadi satu sebatian alam
menghempas jatuh ke wajah suci
menyusur lurah bukit-bukit kulit halus
membinggitkan telinga tapi didambakan
adalah kebiasaan yang menjadi teman bicaranya
ketika sahabat yang lain
mengabdikan mimpi dalam alam mimpi
dia pula merentangi pentas sundanya
yang berliku, yang berteluk
dan memegar kegairahan anehnya
dengan pen, buku, kertas, pemadam
di atas meja kayu buruk.
Nukilan: Shana AK
290905
Kg kipaku
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 8:00 PM 1 comments
Labels: puisi
Thursday, March 4, 2010
Sepohon bunga di taman
Semalam
Ketika aku memandang tubuhnya di awal pagi
Putik merahnya mengembang megah
Cecair jernih di atasnya mengalir jatuh
Ke bawah bumi
Seperti tersenyum menmgundang pancaran mentari
Ketika aku meninggalkan pohon itu
Ia seperti melambai diriku tika aku memandangnya
Siapa yang mengerti!
Oh, kasihku tak usah menghantar
Penghijrahan sementaraku ini dengan lambaian redupmu
Ayuh! Buatkan dirimu tertawa ceria
Seperti yang kau buat selalu
Ingatkah lagi engkau..kekuatanmu itu telah
Memukau seluruh penghuni rama
Mereka seronok menghisap dan menyedut
Kemanisan madumu.
Ketika aku pulang dari penghijrahanku
Pandangan mataku tertancap
Pada letaknya.
Pohon bunga itu diliputi awan tebal
Fotosintesis tak dapat berfungsi
Nafas sesak. Matanya kabur menlenyapkan keceriaannya.
Siapa sangka lambaian pagi tadi adalah
Ucapan selamat tinggal
Putik merah dan daun suburnya tersirat
Sesuatu yang tersembunyi.
Siapakah lagi yang menghargai diri ini
Yang papa kedana.
Pagi ini
Pohon bunga itu sudah hilang kesuburannya
Daun yang dulunya kembang menghijau
Sudah layu menyembah bumi
Putik yang dulunya menjadi taman asmara
Kini hanya tinggal nama
Siratan matahari di ufuk barat
Tidak dapat menyembuhkan luka-luka di tubuhnya.
Kini semuanya tinggal harapan
Sisa harapan supaya pohon itu bangkit
Bangkit hidup memperjuangkan jihadnya
Bangun untuk mengembalikan zaman kegemilangannya.
Cuma terdapat satu persoalan
Apakah harapan itu menjadi realiti?
Yang pasti dunia baru akan muncul kembali
S.Hana AK
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 7:04 AM 0 comments
Labels: puisi