
Aku ingin mencari
tapi aku tidak tahu
apa yang dicari.
Aku ingin memahami
tapi aku tidak tahu
apa yang ingin difahami.
Aku ingin memerlukan
tapi aku tidak tahu
apa yang aku perlukan.
Puas aku coba
tapi aku tidak tahu
mungkin jika aku
menatap cakrawala
rumah segala bulan, bintang dan mentari
mungkin aku bisa tahu
apa yang aku cari
apa yang aku ingin fahami
dan apa yang aku perlukan.
Tapi,
bulan tidak datang
bintang tidak lagi hadir
dan mentari pula semakin
hilang ditelan arakan mendung di ufuk barat.
Di sini,
di balik dinding konkrit
aku masih mencari
masih ingin memahami
dan masih ingin memerlukan
yang aku tidak tahu,
yang memang aku tidak tahu.
S. Hana AK
17 September 2011 ( Sabtu)
1.20 Pm
KHAR
Friday, September 16, 2011
Diari Sang Penyair
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 10:02 PM 0 comments
Labels: puisi
Saturday, April 23, 2011
PAGI
Pagi yang jernih
Berlagu burung-burung
Burung-burung yang terkurung
Dari sangkar kemurungan.
Pagi yang jernih
Berlagu anak-anak desa
Meniti jambatan, titian kasih ilmu
Mengharungi cabaran
Arus sungai yang mengalir lesu.
Pagi yang jernih
Embun menutupi bukit, gunung
Menghiasi alam maya, hutan rimba
Yang aneh dan ghaib. Penuh misteri
Rasiah sebuah alam kehidupan di dunia
Mahupun alam ghaib, alam akhirat.
Pagi yang jernih
Ibu keluar. Menjinjing bakul
Menjaja kuih
Ayah keluar rumah. Motorsikal buruk
Nadi kehidupannya. Mencari rezeki
Pada anak-anak dan isteri
Tercinta.
Pagi yang jernih
Embun menghiasi bangunan-bangunan
Matahari memancar layu
Sinarnya bertali arus
Enggan hidupnya diharungi
Oleh alam yang penuh rasiah.
Pagi yang jernih
Manusia kota, kereta kota
Derum-deram kota, bunyian kota
Burung-burung kota, tikus kota
Masing-masing saling berlumba
Mencari rezeki, rezeki kota
Alam metropolitan.
Nukilan: S. Hana Ak
Kuala Lumpur
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 4:46 AM 0 comments
Labels: puisi
Thursday, April 7, 2011
SIAPALAH AKU DI SISIMU
Siapalah aku di sisimu
hanya seorang insan kerdil
yang punya hati nurani
untuk dikasihi dan mengasihani.
Siapalah aku di sisimu
hanya seorang manusia biasa
yang ingin punya rasa
untuk dicintai dan mencintai.
Siapalah aku di sisimu
hanya seorang hamba hina
yang punya kekurangan
dalam memegang amanahmu.
Siapalah aku di sisimu
hanya seorang musafir rawan
yang ingin mengembara di pelabuhan
yang hanya sementara ini.
Siapalah aku di sisimu
hanya seorang pengemis OKU
yang tak punya kekuatan
untuk menjadi pengemis rindu
dan hidayah daripadamu.
Siapalah aku di sisimu
Seorang insan, manusia, hamba, musafir dan pengemis
Yang tidak punya apa-apa
Untuk ku jadikan sebagai amal
Ketika aku berjumpa denganmu
Ketika di padang masyhar nanti.
Siapalah aku di sisimu Ya Rahim...
Engkau Yang Maha Agung dan Maha Berkuasa
Hanya kepada-Mu tempat ku kembali
Dan berlindung dari belenggu kegelapan hatiku ini.
S. Hana AK
07 April 2011 (Khamis)
22.51 PM
Taman Hijau, Slim River, Perak.
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 7:57 AM 0 comments
Labels: puisi
Tuesday, January 11, 2011
PELABUHAN PENA
Angin...ku bisikkan rinduku ini kepadamu.
Biar rindu ini kau alirkan dalam pelukanmu.
Mencari dia yang tidak pernah kutemu.
Sungai...bukakanlah jendela hidupmu.
Biar hatimu bertaut dengan hatiku.
Mencari makna erti sebuah kasih sayang.
Agar terbenam di lubuk jasadmu yang paling dalam.
Air...pelahankanlah aliran lesumu.
Biar menjadi rimba kebahagiaanku.
Agar kelak aku dapat menemui
Cahaya kegembiraan dalam hidupku.
Langit...singkapkanlah tabir birumu.
Agar aku dapat menanam alwan kesedihan
Yang bersarang dalam nuraniku, selama-lamanya.
Senja...lihatlah aku.
Dengarkanlah rintihan hatiku.
Wahai pemilik nyawaku....
Leraikanlah pelabuhan duka dalam sukmaku.
Hapuskanlah air mata yang menghuni jiwaku.
Biar menjadi debu.
Agar ketetapan-Mu menjadi syurga bagiku.
Agar doaku menjadi penawar segala kelukaanku.
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 4:32 AM 0 comments
Labels: puisi
Wednesday, November 17, 2010
Dia Telah Jadi Seperti Burung
Dia telah jadi seperti burung
yang terbang bebas di angkasa raya
kemana-mana ia pergi
alam akan tersenyum gembira
menyambut kehadirannya
mendengar siulan merdunya.
Siulannya kini bukan lagi siulan kemurungan
siulannya kini bukan lagi siulan kesedihan
siulannya kini bukan lagi siulan penyesalan.
yang selama ini merantai dirinya
yang selama ini memecah maruahnya.
Kini,
dunia barunya muncul kembali
sangkar yang membelenggunya sudah pecah
dimamah karat. Dia sudah bebas
bebas sebagai manusia yang bermaruah
bebas sebagai manusia yang berjaya.
Kini,
dia bebas memilih jalan hidupnya
kerna dia tahu
lorong di hadapannya semakin menjauh
dan dia mesti mengapainya
seiring dengan visi dan misi hidupnya.
Dia kini telah jadi seperti burung
yang bebas terbang ke mana-mana
ya, dia sudah jadi seperti burung
dan dia tidak akan berpatah balik
yakin dan pasti!
S. Hana AK
16 November 2010(Selasa)
1.53 pm
KHAR, UPSI
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 2:07 AM 0 comments
Labels: puisi
Friday, November 12, 2010
Remaja
Ketika senja begini
Aku bisa melihat
Anak-anak desa keliling
Kampung,
Duduk di pinggir-pinggir bahu
Jalan,
Ataupun menginap di kedai-kedai
Sementara menunggu bunga segar
datang mengintai
Seperti kebiasaannya
Telingaku selalu mendengar
Bingkisan suara raksasa
Dari bibir-bibir hitam
Mereka, apabila berbicara
Tentang erti
Keremajaan.
S.Hana AK
010206
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 9:32 AM 0 comments
Labels: puisi
Wednesday, October 20, 2010
ABSURD PADA PERJALANAN
Hari-hari yang kian mendatang
Bagaikan angin yang membelai ruang.
Pilu dalam kepuraan
Sedih dalam kedukaan
Tapi entah
Adakalanya dunia ini bagaikan lautan kasih
Dan
Adakalanya dunia ini bagaikan pokok rendang tempat
Sang burung berteduh dari hujan
Nun di puncak yang tertinggi
Tertulis sudah suratan takdir
Bagi sebuah perjalanan yang jauh
Mencari misi hidup
Aneh dan pelik.
Tiada titik noktah dalam pencarian
Kiranya pencarian itu satu pengorbanan
Dalam merangka kewujudan masa hadapan.
Demi sebuah istana idaman
Hidup ini umpama Burung Camar
Yang terbang beriringan dan bebas di lautan yang luas
Mencari pantai untuk berteduh
Adakalanya ia terbabas jauh di tengah
Sehingga sukar untuk mencari jalan pulang
Dalam hidup
Manusia mesti pandai mengubah haluan
Jalan hidupnya
Bijak dalam kepayahan
Agar tidak tersungkur jatuh
Di lembah kehinaan.
Oleh: s.hana ak
170906
9.45-10.23 PM
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 11:32 PM 0 comments
Labels: puisi