Saturday, May 31, 2014
CINTA yang INDAH
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 4:01 AM 0 comments
Labels: puisi
Saturday, July 13, 2013
Puisi untuk abang
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 8:23 PM 0 comments
Labels: puisi
Friday, July 27, 2012
Puisi Untuk Ayah Dan Ibu

Puisi untukmu Ibu
Ibu, saya sayang ibu
Sayang ibu sepenuh hati saya
Walau dunia kita berbeza
Tapi ibu tetap di hati saya.
Ibu, saya sayang ibu
Ibulah syurgaku
Ibulah redhaku
Ibulah segala-galanya bagiku.
Ibu, izinkan saya berdoa untuk ibu
Izinkan saya untuk mendoakan
Kebahagiaan ibu di sana
Izinkan saya untuk merindui ibu
Dan izinkan mata ini bertemu ibu
Walaupun hanya di alam mimpi.
Ibu, saya sayang ibu
Maafkan saya ibu
Maafkan segala kesilapan saya
Maafkan saya.
Ibu, doa saya akan sentiasa mengiringi ibu
Walau ibu jauh di sana
Walau kita tak pernah lagi bersua
Tapi cinta dan kasih saya pada ibu
Akan tumbuh subur untuk selamanya.
Walau jasad saya di sini, di dunia ini
Tapi doa saya tetap setia menemani ibu.
Ibu, akan kudoakan Ibu
Keselamatan ibu
Kebahagiaan ibu
Akanku mohon pada Allah
Agar ibu gembira di sana
Menjadi penghuni salah Satu
dari syurga-syurga-Nya.
Ibu percayalah ibu
Cinta dan kasih sayang pada ibu
Tetap tumbuh subur di hati ini
Walau di mana saya berada
Selama-lamanya.
Saya sayang ibu
Kekal abadi selama-lamanya
Amin…
S.Hana AK
12.00 pm
25.02.2012 (Sabtu)
Kuala Lumpur
Puisi untukmu Ayah
Ayah, saya sayang ayah
Sayang ayah sepenuh hati saya
Walau ayah jauh dari pandangan
Tapi ayah tetap dekat di hati
Ayah, saya sayang ayah
Ayah adalah syurgaku
Ayah adalah redhaku
Ayahlah segala-galanya bagiku
Ayah, jangan pergi dulu ayah
Jangan pergi dulu
Jangan pergi sebelum
Saya membalas kasih sayang ayah
Ayah, saya sayang ayah
Maafkan saya ayah
Maafkan saya
Maafkan saya
Ayah, doa saya untuk ayah
Akan sentiasa bercambah di hati ini
Hingga denyut nafas saya yang terakhir
Walau jasad ini sudah tiada
Tapi roh saya masih di sini
Masih setia di sisi ayah.
Ayah, akan ku doakan ayah
Kebahagiaan ayah
Keselamatan ayah
Kasih sayang ayah
Rezeki ayah
Kesihatan ayah
Percayalah ayah
Cinta dan kasih sayang saya
Tetap tumbuh subur
Walau di mana saya berada.
Saya sayang ayah
Kekal abadi selama-lamanya.
Amin...
S. Hana AK
21 Feb 2012
Kuala Lumpur.
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 6:03 AM 0 comments
Labels: puisi
Sunday, November 6, 2011
Warkah Seekor Burung Kepada Seorang Manusia

Aku adalah seekor burung
Mungkin engkau sudah lama kenal aku
Akulah yang selalu memekik di ranting dahan
Kala pagi menjenggah waktu
Di depan rumahmu.
Dulu, dunia ini adalah kegembiraanku
Di sana sini aku bisa terbang bebas
Dengan hati yang penuh girang
Tanpa rasa bimbang, tanpa rasa duka.
Tapi engkau tahu?
Sekarang, dunia ini bagaikan lautan api
Yang menyambar tiap inci tubuhku
Hingga yang tinggal adalah kesedihan dan kesengsaraan.
Apakah engkau sedar
Angkara siapakah ini?
Inilah angkara bangsamu!
Tidakkah engkau sedar, kemerdekaan engkau itulah
Malapetaka bagi kami.
Kami sudah tidak punya apa-apa
Makanan kami
Sedikit demi sedikit engkau habiskan
Hingga yang tinggal hanyalah keraknya.
Engkau biarkan bangsaku tak terbela
Engkau biarkan bangsaku kemiskinan
Engkau biarkan bangsaku kesakitan
Engkau biarkan bangsaku pupus di muka bumi ini.
Sekarang, ku tanya kamu dan bangsamu?
Apa ertinya merdeka bagi kalian?
Kebebasan yang kalian kecapi
Tidak ada maknannya
Jika kami di sini kalian abaikan
Jika kami di sini, kalian perlekehkan.
Suara hati kami, kalian permainkan.
Kalian kaya dengan kemodenan, itu tidak apa
Kalian kaya dengan kebebasan, itu juga tidak apa
Kalian kaya dengan keseronokan, juga tidak apa
Tapi kalian miskin dengan nilai-nilai keduniaan.
Aku adalah seekor burung pipit
Yang datang mewakili bangsaku yang bisu
Tiap hari di depan rumahmu
Pulangkan hakku, pulangkan hak bangsaku,
Kembalikan hak kami.
Andai engkau tetap ego
Maka tidak apalah, kami akur
Kami tidak lagi menuntut apa-apa
Ambillah hak kami
Ambillah kehidupan kami
Buatlah sesuka hatimu
Di sana nanti kita pasti akan bertemu
Kerna, dunia ini sekadar pelabuhan
Bagi kami, bangsa yang terjajah.
Pesanku,
Carilah erti kemerdekaan yang sebenar
Sebelum ianya hilang ditelan arakan sejarah dunia.
Nukilan: S. Hana AK
11. 09 PM
29 . 10. 2011 (Sabtu)
KHAR UPSI.
arkah Seekor Burung Kepada Seorang Manusia
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 7:27 AM 0 comments
Labels: puisi
Friday, September 16, 2011
Diari Sang Penyair

Aku ingin mencari
tapi aku tidak tahu
apa yang dicari.
Aku ingin memahami
tapi aku tidak tahu
apa yang ingin difahami.
Aku ingin memerlukan
tapi aku tidak tahu
apa yang aku perlukan.
Puas aku coba
tapi aku tidak tahu
mungkin jika aku
menatap cakrawala
rumah segala bulan, bintang dan mentari
mungkin aku bisa tahu
apa yang aku cari
apa yang aku ingin fahami
dan apa yang aku perlukan.
Tapi,
bulan tidak datang
bintang tidak lagi hadir
dan mentari pula semakin
hilang ditelan arakan mendung di ufuk barat.
Di sini,
di balik dinding konkrit
aku masih mencari
masih ingin memahami
dan masih ingin memerlukan
yang aku tidak tahu,
yang memang aku tidak tahu.
S. Hana AK
17 September 2011 ( Sabtu)
1.20 Pm
KHAR
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 10:02 PM 0 comments
Labels: puisi
Saturday, April 23, 2011
PAGI
Pagi yang jernih
Berlagu burung-burung
Burung-burung yang terkurung
Dari sangkar kemurungan.
Pagi yang jernih
Berlagu anak-anak desa
Meniti jambatan, titian kasih ilmu
Mengharungi cabaran
Arus sungai yang mengalir lesu.
Pagi yang jernih
Embun menutupi bukit, gunung
Menghiasi alam maya, hutan rimba
Yang aneh dan ghaib. Penuh misteri
Rasiah sebuah alam kehidupan di dunia
Mahupun alam ghaib, alam akhirat.
Pagi yang jernih
Ibu keluar. Menjinjing bakul
Menjaja kuih
Ayah keluar rumah. Motorsikal buruk
Nadi kehidupannya. Mencari rezeki
Pada anak-anak dan isteri
Tercinta.
Pagi yang jernih
Embun menghiasi bangunan-bangunan
Matahari memancar layu
Sinarnya bertali arus
Enggan hidupnya diharungi
Oleh alam yang penuh rasiah.
Pagi yang jernih
Manusia kota, kereta kota
Derum-deram kota, bunyian kota
Burung-burung kota, tikus kota
Masing-masing saling berlumba
Mencari rezeki, rezeki kota
Alam metropolitan.
Nukilan: S. Hana Ak
Kuala Lumpur
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 4:46 AM 0 comments
Labels: puisi
Thursday, April 7, 2011
SIAPALAH AKU DI SISIMU
Siapalah aku di sisimu
hanya seorang insan kerdil
yang punya hati nurani
untuk dikasihi dan mengasihani.
Siapalah aku di sisimu
hanya seorang manusia biasa
yang ingin punya rasa
untuk dicintai dan mencintai.
Siapalah aku di sisimu
hanya seorang hamba hina
yang punya kekurangan
dalam memegang amanahmu.
Siapalah aku di sisimu
hanya seorang musafir rawan
yang ingin mengembara di pelabuhan
yang hanya sementara ini.
Siapalah aku di sisimu
hanya seorang pengemis OKU
yang tak punya kekuatan
untuk menjadi pengemis rindu
dan hidayah daripadamu.
Siapalah aku di sisimu
Seorang insan, manusia, hamba, musafir dan pengemis
Yang tidak punya apa-apa
Untuk ku jadikan sebagai amal
Ketika aku berjumpa denganmu
Ketika di padang masyhar nanti.
Siapalah aku di sisimu Ya Rahim...
Engkau Yang Maha Agung dan Maha Berkuasa
Hanya kepada-Mu tempat ku kembali
Dan berlindung dari belenggu kegelapan hatiku ini.
S. Hana AK
07 April 2011 (Khamis)
22.51 PM
Taman Hijau, Slim River, Perak.
Posted by DIARI SANG PENYAIR at 7:57 AM 0 comments
Labels: puisi

